Soal dan Jawaban ANGKATAN PUJANGGA BARU | Sejarah Sastra #2
1. Apa yang mempengaruhi corak PB
De Tachtigers
(Bahasa Indonesia: Gerakan Delapan Puluh) adalah suatu gerakan sastra yang ada
di Belanda yang melejit pada tahun 1880-an. Gerakan sastra ini dianggap
berpengaruh pada gerakan sastra yang ada di Indonesia, Pujangga Baru.[1]
Pengaruh ini diakui oleh Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane dalam
Pujangga Baru edisi April 1983 ketika mereka memperingati Willem Kloos. Di
dalam Angkatan 80 aliran romantik lebih kuat berkembang dan itu pula yang
banyak mempengaruhi corak sastra Pujangga Baru.
Penyair
Angkatan Pujangga Baru mempopulerkan jenis puisi yang lazim disebut sebagai
puisi baru yang meliputi soneta, distikon, kwartetrain, dan sebagainya. Penyair
yang juga dipandang kuat pada masa pujangga baru adalah Amir Hamzah yang oleh
H.B Jasin digelari sebagai Raja Penyair Pujangga Baru. Amir Hamzah juga
dipandang sebagai penyair terbesar pada masa sebelum perang. Selain daripada
Amir Hamzah, ada pula beberapa orang lainnya yang ikut menorehkan namanya dalam
ingatan negri kita tentang sastra Pujangga Baru.
Pujangga Baru
juga menghasilkan banyak sastra atau puisi yang menarik perhatian para
sastrawan sesudahnya. Begitu pula seterusnya, sastra periode selanjutnya juga
merupakan hasil rangsangan dari sastra yang di hasilkan sebelumnya. Demikianlah
terjadi proses persambungan sejarah puisi dari periode ke periode selanjutnya
yang menunjukan ciri-ciri tertentu sesuai dengan periodenya (Pradopo,
2003:36-37).
Menurut Herman
J. Waluyo (2010:64) mengatakan bahwa corak penulisan terhadap puisi Pujangga
Baru antara lain:
a. Bentuk atau
struktur puisinya mengikuti bentuk atu struktur puisi baru seperti sonata,
distichon, tersina, oktaf, dan sebagianya.
b. Pilihan
kata-katanya diwarnai dengan kata-kata yang indah-indah, seperti dewangga, nan,
kelam, mentari, nian, kendil, nirmala, beta, pualam, manikam, boneda dan
seterusnya.
c. Kiasan yang
banyak dipergunakan adalah gaya bahasa perbandingan.
d. Bentuk dan
struktur larik-lariknya adalah simetris. Tiap larik biasanya terdiri atas dua
periode. Hal ini hasil dari pengaruh puisi lama.
e. Gaya
ekspresi aliran romantic Nampak dalam pengucapan perasaan, pelukisan alam yang
indah tentram damai, dan keindahan lainnya.
f. Gaya
puisinya diafan dan polos, sangat jelas dan lambang-lambangnya yang umum
digunakan.
g. Rima
(persajakan) dijadikan sarana kepuitisan.
2. Jelaskan
mengapa gol verewey dengan willem kloos yang individual.
Golongan Albert Verwey tidak setuju dengan paham Willem Kloos yang
terlalu individualistis itu, yang memuja-muja keindahan, tetapi lepas dari
kehidupan masyarakat. Seni harus sesuai dengan tujuan kehidupan yang tidak
memisahkan diri dari masyarakat. Frederik van Eeden mengatakan bahwa seorang
penyair yang tidak berbicara kepada orang banyak, dia bukan apa-apa. Golongan
atau kelompok itu akhirnya terpecah-pecah pula. Masing-masing dengan dasar dan
tujuan sendiri. Willem Kloos tetap meuja keindahan secara berlebih-lebihan,
sifatnya terlalu individualistis. Lodewyk van Deyssel semula memuja perasaan,
kemudian makin bersifat naturalistis. Frederik van Eeden berusaha mencari
kebenaran terutama dari dasar keagamaan, sedangkan Albert Verwey dari filsafat.
Herman Gorter akhirnya menjadi seorang komunis bersama-sama dengan seorang
pengarang wanita terkenal yang bernama Henriette Roland Holst.
3. Mengapa de new guide
Karena de new guide memiliki makna pandu
baru dan terbit pada tahun 1885, meskipun sebelumnya sudah pernah terbit malah
de gids yang artinya pandu dan dipandang sebagai jembatan antara sastra pendeta
(sastra domine) dengan sastra angkatan ‘80. Akan tetapi gerakan angkatan 80
bertentangan dengan sastra pendeta yang pada waktu itu dinilai lamban/statis. Kemudian
tokoh angkatan 80 mencari ilmu untuk mengambangkan karyanya dan mereka mendapat
pengaruh dari inggris, sehingga kemudian terbitlah majalah de new guide.
4. Sastra Pendeta atau domine
Sastra pendeta
atau domine adalah sebuah sastra di belanda yang mana pelopor dari sastra
tersebut merupakan seorang pastor atau pendeta di belanda, sehingga nama sastra
ini dinamakan sastra pendeta atau domine. Sastra pendeta memiliki sifat yang
lamban/statis sehingga pada tahun 80.n sastra ini pernah ditentang oleh gerakan
80.n karena sastra pendeta dinilai lamban/statis dalam berkembang dengan
menerbitkan majalah de geids. Kemudian tokoh gerakan 80 mencoba mencari ilmu
untuk mengembangkan karyanya dan mendobrak pemikiran pendeta yang dianggap
lamban dengan menerbitkan majalah terbarunya de new guide.
5. Mengapa
perkembangan sastra Indonesia selalu mengacu budaya barat
Hal ini dikarenakan sastra di Indonesia
bersifat lamban/statis sehingga para pelopor sastra di Indonesia berniat
memajukan satra di Indonesia dengan cara mencari ilmu di barat yang kemudian di
bawa pulang di padukan dengan sastra di Indonesia yang kemudian dikembangkan
dengan baik, seperti halnya pujangga baru yang menginginkan sastra kebudayaan
persatuan, kebudayaan Indonesia yang bersifat dinamis, PB bersemboyan “Tinggalkan masa lampau”. Hal ini bukan
berarti mereka meninggalkan masa lampau tetapi sekarang yang diperlukan mereka
semangat baru. Kemudian para pelopor dari PB mencoba meneladan ke dunia barat
untuk mencapai kemajuan bangsa Indonesia yang mana menurut para pelopor bangsa
barat lebih maju sebab intelektualisme, materialisme, dan individualisme.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemajuan sastra Indonesia dapat berkembang
maju hanya dengan pendidikan barat
Komentar
Posting Komentar