ANGKATAN PUJANGGA BARU | SEJARAH SASTRA INDONESIA #1

 PERIODE TAHUN 30 ANGKATAN PUJANGGA BARU

A. MAJALAH PUJANGGA BARU
Nama Pujangga Baru mempunyai dua pengertian, yang satu dengan yang lain erat hubungannya. Dua pengertian itu ialah: (1) Pujangga Baru sebagai nama majalah, dan (2) sebagai nama angkatan dalam Sastra Indonesia.
Pujangga Baru sebagai nama majalah mengalami dua periode penerbitan, yaitu Pujangga Baru sebelum perang (Juli 1933-Maret 1942) dan sesudah perang (Maret 1948-Maret 1953). Dua periode penerbitan majalah itu masing-masing mempunyai kedudukan yang berbeda dalam perkembangan sastra Indonesia. Majalah Pujangga Baru sesudah perang tidak penting lagi artinya sebagai pembawa kehidupan sastra, walaupun tenaga pengasuhnya bertambah.
Majalah Pujangga Baru sebelum perang bersifat homogen, artinya pembawa semangat dari satu cita-cita, sedangkan sesudah perang bersifat heterogen, artinya kecuali pembawa semangat Angkatan Pujangga Baru, juga pembawa suara angkatan sesudahnya.
Majalah Pujangga Baru terbitan pertama (Juli 1933) dipimpin oleh Armijn Pane dan Sutan Takdir Alisjahbana. Pada terbitan nomor-nomor berikutnya Sutan Takdir Alisjahbana selalu duduk dalam pimpinan, sedangkan beberapa pengarang yang pernah duduk sebagai sekretaris redaksinya yang penting ialah Armijn Pane, W.J.S. Purwadarminta, dan H.B. Jassin. Pengarang Angkatan 45 yang ditambahkan pada staf redaksi majalah Pujangga Baru sesudah perang, antara lain Achdiat Kartamihardja dan Idrus.
Majalah Pujangga Baru, terutama periode sebelum perang adalah pembawa suara dan semangat dari Angkatan Pujangga Baru. Cita-cita, konsepsi, dan pikiran-pikiran yang berkembang pada angkatan itu sebagian besar tercermin pada majalah Pujangga Baru. Untuk mendapatkan gambaran perkembangan majalah itu dan persoalan pokok yang menjadi perhatian Angkatan Pujangga Baru dapat dilihat dari perubahan subtitel majalah tersebut.
Tahun pertama : Majalah kesusastraan dan bahasa sastra kebudayaan umum.
Tahun kedua : Majalah bulanan kesusastraan dan bahasa serta seni dan kebudayaan.
Tahun ketiga : Pembawa semangat baru dalam kesusastraan, seni kebudayaan, dan soal masyarakat umum.
Tahun keempat dan selanjutnya : Pembimbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan baru, kebudayaan persatuan Indonesia.
Dari perkembangan perubahan subtitel itu jelas bahwa sifat dan perhatian majalah itu sebagai pembawa suara Angkatan Pujangga Baru makin luas dan tegas. Subtitel pada majalah periode sesudah perang cukup singkat, yaitu majalah kebudayaan; karena memang majalah itu tidak lagi berperan sebagai pembawa suatu angkatan.

 

B. PUJANGGA BARU SEBAGAI NAMA ANGKATAN DAN PERIODESASI

Pujangga Baru sebagai nama angkatan dan periodesasi itu muncul sebagai bentuk reaksi keras terhadap banyaknya sensor yang dilakukan Balai Pustaka terhadap karya sastrawan. Terutama yang menyangkut nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Awal kemunculan angkatan ini ditandai dengan berdirinya majalah Pujangga Baru yang diprakarsai Amrijn Pane, Hamzah, dan Sutan Takdir Alisjahbana. Majalah ini diharapkan menjadi wadah bagi para penulis yang karya-karyanya ditolak oleh angkatan Balai Pustaka. Karakteristik sastra pada jaman ini adalah pengaruh barat yang cukup kental serta beraliran romantis dan utopis. Hal ini kemudian menghasilkan beberapa perbedaan pandangan di kalangan sastrawan pada masa itu sehingga terbagi ke dalam dua kelompok. Kelompok “seni untuk seni” yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah, dan “seni untuk pembangunan masyarakat” oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.  

 

C. KARAKTERISASI ANGKATAN PUJANGGA BARU
Di dalam Angkatan Pujangga Baru berkumpul sekelompok pengarang yang memiliki berbagai keanekaragaman. Berlainan halnya dengan Angkatan Balai Pustaka, yang sebagian besar pengarangnya berasal dari satu lingkungan daerah dan dari satu lingkungan keyakinan hidup.
Walaupun para pengarang Pujangga Baru memiliki suatu keanekaragaman, mereka merupakan satu angkatan karena mereka terikat oleh satu cita-cita yang sama yang hendak mereka perjuangkan. Mereka semuanya bercita-cita hendak membentuk kebudayaan baru, kebudayaan persatuan kebangsaan Indonesia. Keanekaragaman yang terdapat pada Angkatan Pujangga Baru itu, misalnya tampak pada:
1. Daerah asalnya: Bali (I Gusti Nyoman Panji Tisna), Madiun (Sutomo Jauhar Arifin), Sangihe (Marius Ramis Dayoh), Minahasa (J.E. Tatengkeng), Tapanuli (Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, dan sebagainya), Padang (Rustam Effendi), Bangka (Hamidah), Aceh (M. Ali Hasyim), Langkat (Amir Hamzah), dan Maluku (Paulus Supit).
2. Kepercayaan agamanya: Nasrani (J.E. Tatengkeng), Hindu Bali (I Gusti Nyoman Panji Tisna), Islam (Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana, dan sebagian besar pengarang Pujangga Baru yang lain).
Hal tersebut besar pengaruhnya bagi perkembangan karya sastra pada angkatan itu, terutama bagi perkembangan kosa kata dan perluasan unsur-unsur penceritaan.
Pujangga Baru sebagai angkatan meliputi sejumlah pengarang yang kesemuannya berusaha hendak mengadakan pembaharuan di bidang kebudayaan Indonesia. Karena majalah tempat menyuarakan cita-cita mereka itu bernama Pujangga Baru yang terbit pertama kalinya pada bulan Juli 1933 maka Ankatan Pujangga Baru lazim disebut juga Ankatan 33 atau Angkatan 30.
Berdasarkan karya sastra buah pikiran mereka, karakterisasi Angkatan Pujangga Baru kiranya dapat dituturkan sebagai berikut:
1. Tema pokok cerita pada umumnya bukan lagi berkisar pada kawin paksa atau masalah adat yang hidup di daerah-daerah, melainkan masalah kehidupan kota atau kehidupan masyarakat modern, misalnya masalah perubahan (Manusia Baru – Sanusi Pane); masalah kedudukan wanita (Layar Terkembang – Sutan Takdir Alisjahbana); masalah kedudukan suami istri dalam hidup berumah tangga (Belenggu – Armijn Pane); dan sebagainya.
2. Sudah jelas mengandung nafas kebangsaan atau unsur nasionalitas, baik karangan yang berbentuk prosa maupun yang berbentuk puisi. Puisi-puisi Asmara Hadi jelas sekali mengandung unsur nasionalitas itu sehingga ia sering dijuluki penyair api nasionalisme.
3. Memiliki kebebsan dalam menentukan bentuk pengucapan sesuai dengan pribadinya. Angkatan Pujangga Baru melepaskan diri dari ikatan bentuk-bentuk tradisi lama dan juga merasa tidak terikat oleh syarat-syarat yang ditentukan oleh pihak penguasa. Kebebsan ini merangsang tumbuhnya keanekaragaman pada karya sastra. Jika karya sastra sebagian besar berupa novel, sastra Pujangga Baru meliputi bentuk-bentuk: novel, cerpen, esai, kritik, dan puisi dengan bermacam-macam bentuk.
4. Bahasa sastra Pujangga Baru adalah bahasa Indonesia yang hidup dalam masyarakat; yang dalam beberapa hal menyimpang dari bahasa yang dipakai dalam sastra resmi Balai Pustaka. Hal ini tampak misalnya pada:
a. Tambahnya kosa kata yang berasal dari berbagai bahasa daerah di Indonesia dan juga berasal dari bahasa asing;
b. Tumbuhnya pembentukan dan kombinasi kata-kata baru, misalnya mendatang, membesar, sambur limbur, sinau-kilau, dan sebagainya;
c. Timbulnya susunan kalimat dan pembentukan-pembentukan kata akibat pengaruh bahasa asing, misalnya mengejar cita-cita, mengambil bagian, mempunyai gambaran, dan lain-lain;
d. Tumbuhnya ungkapan-ungkapan baru.
5. Baik prosa maupun puisinya sebagian besar mengandung suasana romantik, bahkan sering dikatakan romantik idealistik. Ciri romantik itu sepintas lalu saja tampak pada:
a. Nama-nama buku karangan mereka, misalnya Puspa Mega, Madah Kelana, Buah Rindu, Rindu Dendam, Tebaran Mega, Nyanyian Sunyi, dan sebagainya.
b. Banyaknya karangan yang mengambil bahan dari sejarah, misalnya Ken Arok dan Ken Dedes, Kerta Jaya, Sandhyakalaning Majapahit, Gajah Mada, dan sebagainya.
c. Lukisan sesuatu dengan bahasa yang indah-indah, yang sering terasa berlebih-lebihan.
6. Adanya unsur pengaruh dari sastra lain, terutama dari Angkatan 80 (de Tachtigers Baweging) di negeri Belanda. Di dalam usahanya untuk mencari bentuk pengucapan yang baru, para pengarang Pujangga Baru berkenalan dengan Angkatan 80; yang keduanya mersakan semangat hidup yang sama, yaitu sama-sama menentang sastra sebelumnya yang dipandang sudah beku kebetulan pula pada masa itu bangsa Indonesia ada di bawah kekuasaan pemerintah Belanda.
Demikianlah secara garis besar sifat-sifat khas sastra Pujangga Baru. Dibandingkan dengan sastra Balai Pustaka memang masih ada beberapa persamaan, terutama dalam hal tendens cerita dan unsur didaktis yang terdapat di dalamnya. Sastra Pujangga Baru belum terlepas dari masalah tendens, lebih-lebih karangan Sutan Takdir Alisjahbana.

Komentar